Minggu, 05 Mei 2013

Just Me and My (Profil Diri)



Mengapa saya memilih judul ini ? karena dibalik judul ini, ada sebuah cerita yang terselip didalamnya tentang diri saya sendiri.
Nama saya Edwina Carolin Pietersz, yang biasa dipanggil wina. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Saya anak dari seorang ayah bernama Edwin Pietersz dan seorang ibu yang bernama Artini. Dan adik-adik saya yang bernama Edwita Christina Pietersz serta Entino Salmo Pietersz. Ayah seorang pekerja keras, dan ia tidak mengenal waktu, umur dan resiko pekerjaannya. Mobil dan pesawat menjadi transportasi untuk mencari nafkah, dan ibu saya seorang ibu rumah tangga yang tak pernah kenal lelah untuk mengurus kami semua. Adik-adikku sudah menjalani pendidikan perguruan tinggi, jarak umur kami berbeda satu tahun.
Saya seorang wanita yang berumur 21 tahun, lahir tanggal 11 Februari 1992 di Jakarta. Saya seorang mahasiswi dari Universitas Gunadarma waktu TK saya di TK saint Elizabeth, lalu saat SD saya di Kasih Ananda dan saya sempat pindah sekolah karena keadaan keuangan orang tua saya ke SDN Pejuang VII, lalu SMP saya di SMP Cindera Mata, dan SMA saya di SMAN 10. Hingga saat ini saya menjalani pendidikan di Universitas Gunadarma.
            Sewaktu aku kecil, aku merupakan anak yang bandel, iseng, dan suka berkelahi dengan teman sepantar ku. Saat aku TK, aku selalu ingin menjadi nomor satu atau yang terbaik. Memang itu kenyataannya. Pernah satu ketika saat saya dan teman-teman saya sedang menyusun puzzle bersama, saya ingin menjadi yang tercepat pada penyusunan puzzle tersebut. Saat saya ingin memberikan puzzle yang telah saya susun kepada ibu guru, teman saya menyelaknya. Lalu saya sangat kesal, akhirnya diam-diam saya mengambil puzzle teman saya ketika teman saya sedang terlena pandangan matanya dan saya sembunyikan puzzlenya tersebut. Kenapa saya sembunyikan puzzle tersebut  karena pada saat ini kami harus memengan puzzle kami masing-masing. Sehingga kita ibu guru meminta puzzlenya, puzzle teman saya tidak ada dan ia pun akan dimarahi oleh ibu guru. Pengalaman lainnya ketika saya masih TK adalah, saya suka menjahillin teman-teman saya, di TK saya ada ayunan yang di putar-putar dan saya mengajak teman saya untuk mainan di ayunan tersebut, tetapi saya tidak menaikkin ayunan tersebut saya hanya membantu memutarnya saja, ketika teman saya sudah naik, lalu ayunan itu saya putarkan pertama-tama secara perlahan-lahan. Tetapi beberapa saat kemudian saya putarkan ayunan tersebut dengan sekencang mungkin, hingga teman-teman saya menanggis ketakutan dan mual-mual setelah berhenti bermain. Lalu, saya dimarahi ibu guru saya dan orang tua saya pun dipanggil.
            Pengalaman saya saat TK tidak semuanya buruk, ada hal positifnya juga. Saya pernah mengikuti lomba menari ballet, mewarnai, bahasa inggris dan mewarnai tingkat nasional sekodya dan saya memenaginya. Saya pun sangat senang sekali, dan saya pernah menjadi polwan cilik yang dipilih oleh guru TK saya. Saya pun mendatangi langsung polsek yang ada di daerah  dekat rumah saya (Harapan Indah, Bekasi), saya melihat apa saja yang ada di dalam sana. Itu juga pengalam menarik untuk saya.
            Saat saya beranjak SD, saya mulai disuruh belajar mandiri oleh kedua orang tua saya. Saya mempunyai ibu tiri, dan saat saya SD saya tinggal di rumah ibu tiri saya. Yang kebanyakan orang bilang bahwa ibu tiri itu sangat kejam tapi kenyataannya tidak pada saya, mungkin ada sebagaian ibu tiri yang seperti itu tapi tidak semuanya. Kenapa saya bisa tinggal di rumah ibu tiri saya ? karena saat TK saya anak yang sangat nakal, rewel dan manja. Pada akhirnya, ibu dan papa saya mengusulkan agar saya tinggal di rumah ibu tiri saya, dan tentunya saya harus menuruti kata mereka. Saya bersekolah di SD. Kasih Ananda. Hari pertama saya sekolah dan tinggal disana, saya sangat bersemangat hingga pada pagi harinya saya bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Saya pun menunggu di luar rumah untuk menunggu jemputan saya, tetapi jemputan saya tak kunjung datang juga (entah saya yang terlalu semangat pada pagi itu). Setelah menunggu sekitar 1 jam lebih, akhirnya jemputan saya datang juga dan saya sangat senang karena saya akan bertemu dengan teman baru saya, sekolah baru saya dan suasana yang baru untuk saya. Saat setiba disekolah baru saya, saya mulai berkenal dengan mereka tak malu-malu saya bisa beradaptasi dengan mereka. Tetapi, saya sempat kesulitan dengan pelajaran yang ada di sekolah saya, walaupun masih SD pelajarannya sangat sulit untuk saya dan tiada hari tanpa Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh guru-guru saya. Tetapi, ayah saya tetap memberikan yang terbaik untuk saya.
            Pada suatu ketika, saat krisis moneter ayahku mulai mengalami kebangkrutan dengan bisnisnya. Dan akhirnya ayahku memutuskan untuk memindahkan ku ke selokah negeri yang berada tak jauh dari rumah ku, yaitu SDN. Pejuang VII. Pada saat itu merasakan hal yang berbeda dengan teman-teman ku yang saat ini, mereka berbeda dengan teman ku yang sebelumnya. Dengan fasilitas sekolah yang ada, aku tetap belajar untuk mendapatkan ilmu. Memang aku merasakan perbedaan yang jauh saat mengalami pendidikan saat ini, tapi bagiku tak masalah yang terpenting ayah ku masih bisa memberikan nafkah dan bisa menyekolahkan kami. Seiring dengan berjalannya waktu, aku bisa beradaptasi dengan teman-temanku, bahkan aku menjadi anak yang sangat tomboi sekali pada masa ini. Aku sering bermain dengan teman-teman ku yang lelaki, aku suka memanjat pohon (yang sebagian teman peremouan ku tidak bisa memanjatnya), aku bermain di tempat yang kotor (got) untuk mencari ikan yang kecil-kecil dan aku suka berkelahi dengan anak lelaki yang lainnya.
            Aku mulai beranjak remaja, aku mulai mengalami perubahan pada diriku semenjak aku SMP. Yang tadinya aku tomboy sekarang aku menjadi feminim. Masa SMP ini merupakan masa yang aku sukai, karena menurutku ini dimana kita mencari tahu tentang jati diriku yang mulai dibentuk dan semakin banyak hal yang aku tahu. Saat SMP aku pernah menjadi anggota KIR (Karya Ilmiah Remaja), aku mengikuti Paduan Suara, Bermain Musik, menjadi pemimpin saat memulai ibadah dan menjadi Pemimpin Upacara Bendera (untuk pertama kalinya buat ku dan pertama kalinya juga perempuan yang menjadi pemimpin upacara bendera). Dan semuanya itu bukan aku yang memilih atau mengajukan diri, tetapi aku yang dipilih oleh guru-guru ku. Banyak hal yang ku temui saat SMP, juga tak kalah dengan prestasi ku yang terus meningkat saat SMP. Itu semua berkat bantuan teman-teman ku yang membuat aku harus bisa lebih dan lebih dari mereka, karena teman-teman ku yang menginspirasikan aku. Teman-teman yang tak akan ku lupakan, disini aku mulai mengerti arti dari sebuah persahabatan.
            SMA adalah yang menurut ku aku sangat tidak menyukainya, yang pertama aku disuruh orang tua ku untuk masuk ke SMA Negeri dan yang berarti aku harus berpisah dengan teman-teman ku, yang kedua adalah SMA Negeri yang dipilih orang tuaku itu adalah SMA yang tidak aku sukai atau bukan favorit buat aku. Menurut mereka SMA Negeri itu adalah SMA dimana para muridnya adalah orang yang pintar. Padahal belum tentu menurut ku, bisa saja itu keberuntungan saja. Akhirnya aku turutin lagi apa perkataan kedua orang tua ku, dan akhirnya aku diterima ke SMA negeri dengan peringkat ke-12 dari 450 siswa/siswi orang tua ku sangat senang melihat itu. Saat SMA ini juga masa peralihan untuk aku, karena aku diberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi terhadap pendidikan aku dan untuk masa depan ku juga. Disini aku juga menemukan seorang teman yang baik untukku, teman-teman yang selalu ada untukku. Pengalaman-pengalaman yang tak akan terlupakan untukku, baik suka maupun duka. Banyak pelajaran dari masa SMA, masa saat disakiti, masa saat suka, masa dimana menjadi contoh untuk yang lain dan lain-lainnya masih banyak. Banyak hal yang saya lakukan dimasa SMA, seperti mengikuti eksul Pramuka, Paduan Suara, dan Marching Band bahkan saya sempat dipilih untuk mengikuti Theater untuk pertunjukan perpisahan kakak kelas saya dan menari daerah dari daerah aceh. Bahkan saya pernah mengikuti casting dari SMA saya untuk bermain film, dan saya pun di telephone dari pihak manajemennya bahwa saya lulus casting, dan saya serta kedua orang tua saya disuruh datang untuk menemui sutradaranya. Kedua orang tua sudah sempat ketemu dengan sutradaranya dan kedua orang tua sudah setuju, tetapi karena larangan dari kakak tiri saya yang tidak boleh untuk saya ikut menjadi pemain sinetron dengan alasan takut pelajaran saya terganggu akhirnya kedua orang tua saya membatalkan perjanjian kontrak tersebut. Saya pun merasa kecewa, kenapa saya tidak diberikan kesempatan itu ? padahal saya sangat senang dibidang seni, dan saya juga mempunyai bakat dibidang drama. Hati saya pun saat itu benar-benar kecewa sekali, tapi apa boleh buat mungkin ada rencana yang lebih baik lagi untuk saya (pikir saya begitu). Setelah SMA, tiba waktunya untuk saya masuk ke dunia Perkuliahan dan saya menjadi seorang Mahasiswa.
            Saat itu saya sangat binggung untuk menentukkan saya akan menjadi apa nantinya, saya mempunyai cita-cita dari kecil ingin menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat untuk penyakit HIV / AIDS. Kenapa saya memilihi itu ? karena saya sering dengar dari guru saya, bahwa penyakit itu adalah penyakit yang paling mematikan di dunia, dan belum ada orang yang menemukan obatnya untuk penyembuhan penyakit itu. Tapi saya berpikir, kuliah dibidang kedokteran itu sangatlah mahal dan membutuhkan biaya yang sangat besar sekali. Disini bukan orang tua saya yang sudah tua tetapi masih semangat bekerja untuk memberikan yang terbaik buat kami. Dan saya berpikir untuk adik-adik saya, bagaimana dengan adik-adik saya nanti jika saya mengambil kuliah kedokteran ? akhirnya saya memutuskan untuk mencari kuliah dengan jurusan yang lain, tetapi yang kedepannya akan sangat banyak orang yang membutuhkannya. Terlintas dari kata-kata itu, saya berpikir bahwa saat ini setiap orang sangat membutuhkan sebuah informasi. Dan saya mencari tahu kuliah apa yang berkaitan dengan informasi itu ? akhirnya saya mendapatkan pendapat dari teman-teman saya, kakak sepupu saya dan kedua orang tua saya yaitu dunia IT (Teknologi Informasi). Jurusan yang saya inginkan sudah saya dapatkan, sekarang saya mencari universitas yang terbaik untuk saya. Saya pernah mendaftar di Universitas Negeri yang ternama, tetapi sayang sekali saya gagal dalam mengikuti tesnya dan saya sangat mengecewakan kedua orang tua saya yang telah mempercayai saya akan bisa masuk ke Universitas itu. Terus saya mendapatkan banyak sekali tawaran beasiswa baik dari Negeri yang telah gagal saya ikuti tes tersebut, dari pemerintahan, dan swasta semua tidak ada yang saya terima. Hingga akhirnya saya mendapatkan beasiswa dari gunadarma, dan saya mencari tahu tentang informasi kampus ini. Ternyata menurut informasi yang saya dapatkan, bahwa Universitas ini memiliki dunia informasi yang sangat bagus. Dan saya pun sangat tertarik, akhirnya saya memutuskan untuk mengabil beasiswa dari Universitas Gunadarma.
            Tidak terasa sudah enam semester saya jalani, banyak keluh kesah saat pertama kali saya mengikuti kuliah dikampus ini. Karena pas saya kuliah, banyak hal yang saya tidak ketahui tentang jurusan saya (Sistem Informasi). Dengan seiring berjalannya waktu, setiap hari saya belajar dan terus belajar untuk dapat memahami dan mengerti tentang ilmu ini. Ya. Disinilah saya banyak belajar. Motivasi saya saat kuliah adalah mendapatkan IPK yang tertinggi dan tetap harus stabil, bukan itu saja yang saya inginkan tetapi yang terpenting saya bisa mendapatkan ilmu dari apa yang telah saya pelajari dan kelak saya bisa pergunakan diluar sana agar saya tidak memalukan diri saya, kedua orang tua saya, dan almamater saya tentunya.
            Tuhan mempunyai rencana atas semua yang kita jalani saat ini, dan cara-Nya sendiri untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Tuhan selalu memberikan hal-hal yang tidak dimengerti oleh kita, yang terkadang menurut kita, kita tidak mampu untuk menjalaninya. Tetapi dibalik semua itu dan dengan kesabaran yang kita miliki, tuhan pasti punya alasan dan rencana yang indah untuk kita nanti. Amin J
            Motto dalam hidup saya adalah lakukanlah yang terbaik untuk siapapun selama kita masih diberikan kesempatan untuk memberikan yang terbaik kepada sesama kita (manusia), dan jangalah membuat hidupmu tidak berguna untuk orang lain tetapi buatlah hidupmu agar berguna untuk semua orang sampai kapan pun itu hingga sekalipun kamu telah tiada, dan berilah rezekimu sebanyak mungkin kepada mereka yang membutuhkan karena rezekimu tak akan pernah berhenti hingga engkau telah meningkalkan dunia ini.

Nama  : Edwina Carolin Pietersz
NPM   : 12110254
Kelas   : 3KA27

Kamis, 10 Januari 2013

Tugas 1 (Sikap Generasi Muda Melestarikan Bahasa Indonesia )



Bahasa Indonesia, apa itu bahasa indonesia? Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Disini saya akan membahas bagaimana bahasa Indonesia di kalangan generasi muda dan  bagaimana sikap generasi muda melestarikan bahasanya sendiri.

Pada masa ini, sudah jarang sekali generasi muda menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Mereka lebih sering menggunakan bahasa 'gaul' indonesia karena itu merupakan hal yang sudah menjadi kebiasaan serta pengaruh lingkungan yang sangat besar. Maksud pengaruh lingkungan disini adalah misalnya adalah dalam kasus ini. Biasanya masyarakat daerah masih kental sekali dengan bahasa daerah yang mereka gunakan di daerah masing-masing. Sehingga apabila mereka menggunakan bahasa Indonesia, maka mereka akan berbicara menggunakan bahasa indonesia yang baik, yaitu bahasa indonesia yang baku. Lalu mereka merantau ke kota-kota besar misalnya jakarta, nah karena faktor lingkungan itu mereka tidak lagi menggunakan bahasa indonesia yang baik dan baku, mereka lebih sering menggunakan bahsa indonesia yang 'gaul'. Padahal salah satu cara untuk melestarikannya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan begitu kita akan mengetahui istilah-istilah baku bahasa Indonesia yang tadi nya kita tidak tahu menjadi tahu. Lalu maraknya lagi sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa luar sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Bukan hal yang tidak mungkin kalau nantinya generasi yang selanjutnya lebih senang menggunakan bahasa luar dibandingkan bahasa indonesia.


Sumber Teori : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia